AK-12 Senapan Standar Tentara Rusia

AK-12
AK-12
Konstantin Lazarev (entah siapa) mengupload beberapa foto menarik dari uji coba senapan AK-12 di laman Facebooknya. Senapan ini terlihat dicat dengan warna tanah, dan tampaknya telah digunakan dengan berat.

Seperti diketahui, AK-12 saat ini masih terus diuji untuk nantinya digunakan sebagai senapan standar tentara Rusia. Desainnya masih mengusung desain khas senapan Rusia sebelumnya AK-74, namun terlihat dengan receiver, bolt carrier, dan rel monolitik baru sebagai solusi pemasangan optik disamping fitur-fitur baru lainnya.

AK-12 dinilai masih sebagai turunan senapan serbu legendaris AK-47, diproduksi oleh pabrik senjata Izhmash. Kaliber yang digunakan adalah 5,45×39mm standar AK-74, namun dapat diubah ke 7,62×39mm dan 5,56×45mm. Versi kelas beratnya akan menggunakan kaliber 7,62×51mm NATO.

Pada 2012 lalu, Kementerian Pertahanan Rusia sempat mengumumkan bahwa tentara Rusia tidak akan membeli AK-12, alasannya stok surplus AK-74 mereka di gudang senjata sudah mencapai jutaan dan tidak membutuhkan senapan baru. Meskipun demikian, Rusia tetap memulai uji coba senapan ini (mungkin untuk membantu kondisi keuangan Izhmash-dinyatakan pailit). Diuji di segala cuaca, kondisi dan iklim, namun sayang AK-12 dinyatakan masih memiliki cacat. Cacat tersebut tidak diungkapkan karena merupakan informasi rahasia bagi pengembang.

Pada 2013 lalu juga pemerintah Rusia menyebutkan bahwa AK-12 tidak akan ikut uji coba negara hingga masalah-masalah pada senapan diselesaikan. Hingga kini Izmash terus memperbaiki AK-12. Entah apa nanti nasib senapan yang disebutkan super ergonomis ini.
AK-12
AK-12
AK-12
AK-12
AK-12
AK-12
AK-12
AK-12
AK-12
AK-12

Militer Korea Selatan Uji Rudal Spike Buatan Israel

Rudal Spike
Photo: South Korean Army
Militer Korea Selatan menggelar latihan perang menggunakan rudal baru mereka, spike yang dibeli dari Israel. Pada tahun 2011, Korea Selatan membeli sebanyak 67 rudal Spike, pas a serangan hujan artileri yang dilakukan Korea Utara ke Pulau Yeonpyeong pada tahun 2010.
Rudal Spike
Photo: South Korean Army
Rudal Spike
Photo: South Korean Army
Rudal Spike
Photo: South Korean Army
Rudal Spike
Photo: South Korean Army
Rudal Spike
Photo: South Korean Army
Rudal Spike ini ditempatkan Korea Selatan di Pulau tersebut, di laut Kuning yang dekat dengan wilayah Korea Utara. Sebanyak 67 rudal Spike dibeli Korea dengan harga USD 43 juta. Rudal ini buatan Rafael Advanced Defence Systems, Israel yang bersifat NLOS [non-line-of-sight]: multi-purpose electro-optical missile system with a real-time wireless data link untuk jarak 25 km. Rudal yang bersifat precision-guided ini memiliki fasilitas mid-course navigasi, seeingga arah tembakan bisa diubah di tengah jalan.

Senjata Maut TOS-1A Solntsepek Mampu Melumpuhkan Musuh dari Jarak Enam Kilometer

TOS-1A Solntsepek
TOS-1A Solntsepek
Dalam pameran produk perusahaan pemerintah Rusia pada akhir September lalu, perusahaan Splav State Research and Production Association memamerkan roket-roket terbaru yang diperuntukan bagi sistem TOS-1A Solntsepek. Senjata maut dengan kekuatan penghancur dashyat tersebut kini dapat mengenai musuh yang berjarak hingga enam kilometer.

Perang Perdana
“Berkat ketepatan penembakan roket yang tinggi, TOS-1A berhasil mematahkan gerakan perlawanan para gerilyawan di wilayah Grozniy dan Desa Komsomolskoye,” cerita sejarawan kemiliteran, Redaktur Utama Voyenniy Rubezh Oleg Kovshar pada RBTH.

Pakar independen dan sejarawan kemiliteran Aleksey Khlopotov menilai TOS-1 merupakan senjata unik yang menggabungkan spesifikasi dan kemampuan tempur dari peluncur multilaras serta tank pelontar api, serbu, dan pembakar.
TOS-1A Solntsepek
TOS-1A Solntsepek
Pengalaman dari peperangan modern dan konflik bersenjata pada awal 1980-an telah membuktikan kepada para tentara Soviet bahwa mereka membutuhkan tank khusus dengan persenjataan mematikan untuk melindungi infanteri secara langsung. Berbeda dengan peluncur multilaras lain, TOS harus bergerak di garis depan dan menghancurkan obyek-obyek musuh tertentu, seperti benteng pertahanan, pelindung lapis baja dan lain-lain. Sistem ini juga wajib memiliki pelindung yang setidaknya setara dengan tank-tank lain. Sasis kendaraan peluncur ini dibuat berdasarkan sasis milik T-72 yang sudah dimodernisasi. Peluru termobarik yang dimiliki TOS membuat daya hancur peluncur multilaras TOS menjadi berkali-kali lipat lebih kuat dibanding T-72.

Peluncur multilaras kelas berat ini melakukan perang perdana di Afganistan dalam operasi militer di jurang distrik Salang dan lembah Carikar. “TOS mengambil posisi lalu meluncurkan rudal-rudalnya dan dengan cepat bergerak mundur di bawah tembakan musuh yang menghujaninya. Senjata termobarik ini telah membuktikan efektivitasnya di daerah pegunungan,” tutur Kovshar pada RBTH.
TOS-1A Solntsepek
Berdasarkan foto-foto terakhir yang beredar dari Irak, kelompok Solntsepek pertama sudah diserahkan oleh produsen senjata asal Rusia pada angkatan bersenjata Irak yang sedang bertempur melawan ISIS.
(Foto: Kirill Braga/RIA Novosti)
Pengalaman dari peperangan modern dan konflik bersenjata pada awal 1980-an telah membuktikan kepada para tentara Soviet bahwa mereka membutuhkan tank khusus dengan persenjataan mematikan untuk melindungi infanteri secara langsung. Berbeda dengan peluncur multilaras lain, TOS harus bergerak di garis depan dan menghancurkan obyek-obyek musuh tertentu, seperti benteng pertahanan, pelindung lapis baja dan lain-lain. Sistem ini juga wajib memiliki pelindung yang setidaknya setara dengan tank-tank lain. Sasis kendaraan peluncur ini dibuat berdasarkan sasis milik T-72 yang sudah dimodernisasi. Peluru termobarik yang dimiliki TOS membuat daya hancur peluncur multilaras TOS menjadi berkali-kali lipat lebih kuat dibanding T-72.

Peluncur multilaras kelas berat ini melakukan perang perdana di Afganistan dalam operasi militer di jurang distrik Salang dan lembah Carikar. “TOS mengambil posisi lalu meluncurkan rudal-rudalnya dan dengan cepat bergerak mundur di bawah tembakan musuh yang menghujaninya. Senjata termobarik ini telah membuktikan efektivitasnya di daerah pegunungan,” tutur Kovshar pada RBTH.



Masalah Utama
Selain membuktikan efektivitas TOS, peperangan di Afganistan juga menunjukan kelemahan utama senjata tersebut. Rudal yang diluncurkan oleh TOS kala itu hanya dapat mengenai sasaran yang berjarak relatif dekat. Musuh pun dengan mudah dapat melumpuhkan TOS menggunakan senjata proyektil ringan, atau bahkan hanya menggunakan peluncur granat.

Berdasarkan informasi, sistem peluncur ini tidak memuat kompleks persenjataan secara penuh, mereka hanya mengangkut roket dalam jumlah terbatas. “Hal untuk menghindari risiko rudal tersebut akan teraktivasi otomatis oleh tembakan musuh yang mengenainya,” terang Kovshar. Sang ahli senjata menerangkan, awalnya perlindungan utama TOS hanya berupa kecepatan peluncuran rudal, akurasi tembakan yang tinggi, serta amunisi senjata yang dashyat yang mampu menghancurkan para musuhnya dalam waktu singkat.

Seorang prajurit yang ikut serta dalam penyerbuan Desa Komsomolskoye pada gerakan militer di Chechnya musim semi tahun 2000 lalu pernah melihat TOS beraksi secara langsung. “Buratino tidak hanya melindungi kendaraan tempur lain, tetapi juga para penembak runduk, dengan mencegah serangan balasan dari para musuh diarahkan pada senjata ini,” papar sang prajurit pada RBTH.

Namun, saat ini TOS telah berubah menjadi lebih baik. “Kini, saat jangkauan tembak sistem TOS telah mencapai jarak enam kilometer, kami menjalankan Buratino di tengah hujan peluru dan peluncur granat anti-tank tanpa ragu. Meski tetap ada resiko terkena rudal anti-tank musuh, saat ini perhitungan lebih ditekankan pada mengikat sasaran dan peluncuran roket. TOS dapat menghancurkan musuh dan keluar dari hujan tembakan musuh,” kata perwakilan Kementerian Pertahanan Rusia yang sudah mengenal situasi tersebut pada RBTH.

Siap Bertempur Melawan ISIS
Saat ini, selain angkatan bersenjata Rusia, TOS juga terdapat di perbendaharaan senjata Kazakhstan dan Azerbaijan. Selain itu berdasarkan foto-foto terakhir yang beredar dari Irak, kelompok Solntsepek pertama sudah diserahkan oleh produsen senjata asal Rusia pada angkatan bersenjata Irak yang sedang bertempur melawan ISIS.

“Kazakhstan membeli sistem peluncur tersebut bersamaan dengan kendaraan tempur pendukung tank BMPT. BMPT berfungsi untuk melindungi TOS ketika ditembaki musuh, dan kemudian BMPT melumpuhkan sasaran-sasaran yang tersisa setelah ledakan rudal TOS,” terang Aleksey Khlopotov.

Khlopotov berpendapat, pengalaman penggunaan TOS milik Kazakhstan ini akan dijadikan dasar oleh angkatan bersenjata Azerbaijan, dan kemungkinan juga Irak. Saat ini di dalam persenjataan angkatan bersenjata Rusia TOS berada dalam perbendaharaan senjata peluncur multilaras milik divisi pertahanan terhadap serangan radiasi, kimia, dan biologis, serta di batalion pelontar api lain. (RBTH)

Scorpion: Pesawat Tempur Buatan Perusahaan Pertahanan AS Textron AirLand

Textron AirLand Scorpion
Textron AirLand Scorpion
AMERICA:(DM) - Sejak terbang pertama kali pada tahun 2013, pesawat tempur baru buatan perusahaan pertahanan AS Textron AirLand telah menarik perhatian dari industri, media, dan militer. Pesawat tempur kecil dan murah ini membuat debut internasionalnya pada tahun 2014 dan sempat berpartisipasi dalam latihan militer AS. Namun karena hingga saat ini belum ada pihak yang memesannya, akankah pesawat ini terus 'hidup'?

Textron AirLand menyebutnya dengan "Scorpion", pesawat bermesin ganda, dua kursi pilot dengan harga per unitnya kurang dari USD 20 juta dan dengan biaya USD 3 ribu setiap jam penerbangannya. Disinilah letak Scorpion menarik perhatian pejabat-pejabat militer yang berwenang membeli peralatan pertahanan.

Di tahun ini tepatnya pada bulan Juli, Scorpion telah terbang sejauh 4.700 mil laut dari Wichita, Kansas, Amerika Serikat, ke Pangkalan Angkatan Udara Fairford  di Inggris untuk melakukan debut internasionalnya di pameran dirgantara Royal International Air Tattoo (RIAT). Penerbangannya sukses, tidak seperti sang miliaran dolar F-35 yang kala itu dilarang tampil di pameran internasional karena masalah api pada mesinnya.
Textron AirLand Scorpion jet
Textron AirLand Scorpion
Pembangunan Scorpion dimulai pada bulan Januari 2012 setelah perwakilan dari AirLand Enterprises mengemukakan idenya ke eksekutif Textron (sebelum akhirnya kongsi menjadi Textron AirLand). Textron AirLand berhasil menjaga rapat rahasia pengembangan Scorpion hingga akhirnya diresmikan pada bulan September 2013. Scorpion berhasil terbang untuk yang pertama kalinya dari Pangkalan Angkatan Udara McConnell  di Wichita pada tanggal 12 Desember 2013. Pembangunannya terbilang cepat, dari papan gambar hingga prototipe selesai hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 tahun. Sangat kontras dengan proyek-proyek militer lainnya yang butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk desainnya saja.

Scorpion berdimensi panjang 13,26 meter, rentang sayap 14,43 meter, berat kosong 11.800 kg, dengan 2 mesin Honeywell TFE731 Turbofan yang memberikannya kecepatan maksimum 833 km perjam. Dengan konfigurasi sayap lurus dan dua ekor, Scorpion memang bukan termasuk pesawat tempur yang estetis, setidaknya bila dibandingkan dengan pesawat tempur performa tinggi saat ini. Scorpion dapat dilengkapi dengan sistem intelijen, pengawasan dan pengintaian (ISR) canggih dan munisi presisi (guide) untuk misi penyerangan.

Textron AirLand berharap Scorpion menjadi pesawat yang menjembatani kesenjangan antara pesawat tempur performa tinggi seperti Saab Gripen, yang harganya sekitar USD 50 juta, dan pesawat turboprop yang lebih murah seperti Embraer Super Tucano yang sekitar USD 9-14 juta.
Textron AirLand Scorpion
Textron AirLand Scorpion
Textron AirLand Scorpion Jet
Textron AirLand Scorpion
Sebagai cara untuk membuat pesawat ini murah, Textron AirLand memanfaatkan teknologi dan komponen yang sudah ada atau sering diistilahkan sebagai teknologi 'off the shelf', daripada harus mencoba mengembangkan sistem atau bagian-bagian unik baru. Cessna, anak perusahan Textron, telah menyumbang banyak komponen untuk Scorpion, begitu pula dengan Cobham, Martin-Baker Aircraft dan Honeywell, yang menyuplai perangkat elektronik, kursi ejeksi dan mesinnya.

Textron AirLand memaksudkan Scorpion sebagai platform yang sempurna untuk misi low-end seperti kontra pemberontakan, dukungan untuk perang non-reguler, kontra narkotika dan tanggap bencana. Dalam konflik di Irak dan Afghanistan, militer AS menggunakan pesawat performa tinggi seperti F-16 untuk melaksanakan misi ini, yang mana Angkatan Udara AS harus menerima kwitansi sebesar USD 18.000 untuk setiap jam F-16 terbang. Scorpion ditujukan untuk menjadi pesawat alternatif yang terjangkau.

Analis memperkirakan biaya pengembangan dan pembangunan Scorpion telah memakan biaya ratusan juta dolar, yang kesemuanya didanai sendiri oleh Textron AirLand. Ini termasuk langkah yang tidak biasa dilakukan oleh industri-industri pertahanan. Langkah seperti ini berisiko tinggi mengingat biasanya industri-industri pertahanan AS baru berani mengembangkan sistem pertahanan ketika sudah disokong dana dan spesifikasi yang jelas dari pemerintah AS.

Apakah itu sangat berisko? Ya. Apakah itu risiko yang smart? Ya," ujar Presiden Textron AirLand Bill Anderson kepada BBC. "Tapi pasar sangat tertarik. Kami memproduksi produk komersial sepanjang waktu."
Textron AirLand Scorpion jet
Textron AirLand Scorpion
Menurut pejabat Textron AirLand, sekitar 2.000 Scorpion akan terjual di dunia, terutama di Afrika, Amerika Selatan dan Timur Tengah. Dengan harga per unit USD 20 juta dolar, bisa saja Textron AirLand dapat melunasi hutang 'judi' pengembangannya. Tapi mengingat hingga saat ini belum juga ada order yang ditandatangani, 2.000 unit tampaknya terlalu optimis.

Jadi apa yang dapat membuat Scorpion sukses atau agar Textron AirLand memperoleh keuntungan? Para ahli mengatakan bahwa Pentagon harus mulai menggunakan Scorpion. Hal ini akan mendongkrak kepercayaan dari negara-negara lain atas Scorpion. Tapi analis juga menilai Scorpion hanyalah solusi untuk masalah yang tidak ada pada militer AS. Peran pesawat close-air-support seperti Scorpion, bukanlah kebutuhan mendesak militer AS.

Salah satu peran Scorpion lainnya yang mungkin menarik minat Pentagon adalah ISR, yang mana Angkatan Udara AS saat ini sedang gencar menambah armada sistem udara tak berawak (UAS). Tapi timbul pertanyaan lagi, mengapa militer AS mau menggunakan sistem berawak yang membahayakan nyawa pilotnya padahal mereka dapat menggunakan UAS dan masih mampu membelinya.

Jadi untuk apa pesawat ini? Kemungkinan terbesarnya adalah Pentagon menggunakannya sebagai pesawat pelatihan untuk pilot. Adalah Program TX Pentagon yang bertujuan untuk mengganti pesawat latih Northrop T-38 yang sudah digunakan AS sejak 1960-an. Tapi untuk bisa bersaing dengan pesawat lain dalam seleksi Program TX, analis menilai Scorpion harus menggunakan mesin yang lebih kuat dan sayap yang didesain ulang.
Jika Scorpion nantinya akan mendapatkan banyak order, mungkin banyak industri pertahanan lainnya yang berani mengembangkan sistem militer tanpa dukungan dana dari pemerintah. Tetapi masalah Scorpion cukup pelik, industri pertahanan akan berpikir dua kali untuk menginvestasikan uangnya untuk pengembangan sistem pertahanan.

Generasi Robot Tempur Militer

Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Saat ini terdapat sejumlah senjata robotik yang sukses dioperasikan oleh tentara, dan beberapa prototype teknologi tersebut telah melewati tahap uji coba. Inilah 5 robot militer yang paling menjanjikan dalam pengembangan teknologi persenjataan Rusia dan tambahan beberapa robot yang masih rahasia dan masih berupa desain

Pada awal November Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan konsep pengembangan system teknologi robotic dan penggunaannya dalam bidang militer. Berdasarkan dari informasi dari kementerian pertahanan, robot-robot tersebut masuk dalam perbendaharaan senjata pasukan Rusia pada 2017-2018 dan menjelang tahun 2025 robot-robot ini akan mengisi 30% dari keseluruhan teknologi senjata Angkatan bersenjata Rusia

1. Robot Tempur Platform-M
Platform-M
Platform-M
Produsen senjata ini merancang Platform-M sebagai instrument perang universal yang mampu bertindak sebagai pengintai, penjaga patroli sekaligus pengaman obyek-obyek penting. Berkat sistem persenjataan yang dimilikinya Platform-M juga dapat berfungsi sebagai pendukung serangan tembak dengan sistem senjata yang bekerja secara otomatis. Platform-M adalalah robot berukuran kecil yang menakutkan. Robot ini dilengkapi dengan senjata otomatis dan pelontar granat. Senjata mungil ini telah membuktikan kehebatannya dalam latihan perang di Kaliningrad pada musim panas lalu. Saat ini Platform-M telah masuk dalam perbendaharaan senjata pasukan Rusia.

2. Mobile Robotik Volk-2
Mobile Robotik Volk-2
Mobile Robotik Volk-2
Volk-2 (Serigala-2) adalah robot universal yang memiliki tugas perang sama seperti Plaform-M. Namun Volk-2 lebih kuat dan berat dibandingkan pendahulunya tersebut. Volk-2 memilki bobot 1 ton sementara Platform-M hanya 800 kg. Kendaraan tanpa awak ini dapat dikendalikan melalui saluran radio dari jarak hingga 5 km. Volk-2 memiliki sasis beroda rantai dengan kemampuan jelejah yang telah ditingkatkan. Jalan berkontur kasar bahkan tidak terlalu berpengaruh terhadap kecepatan gerak senjata ini. Dalam proses uji coba Volk-2 mampu berakselerasi bahkan ketika di resputitsa( jalanan berlumpur yg sulit dilalui akibat salju yg mencair ).

Volk-2 juga dipersenjatai dengan senapan Kalasnikov dan senapan mesian kaliber besar seperti Utes dan Kord. Robot ini mampu menembak sambil bergerak dengan kecepatan 35km/jam dalam segala cuaca. Ketepatan tembakan senjata yang dimilikinya juga dijamin oleh penglihatan panas, laser pengukur jarak serta hidrostabilisator. Robot ini juga memiliki lapisan pelindung baja khusus. Saat ini Volk-2 tengah menjalani proses uji coba, kelak robot ini akan digunakan oleh divisi roket strategis sebagai penjaga Sistem peluncur rudal balistik Topol-M dan Yars.

3. Pencari Ranjau Pintar Uran-6
Uran-6 robot
Uran-6 robot
Uran-6 adalah Robot pencari ranjau multifungsi yang dapat menggantikan 20 tentara pencari ranjau (Sapper). Robot ini dikendalikan dari jarak jauh. Operator dapat memerintahkan robot dari jarak aman hingga 1 km. Teknologi yang dilengkapi sekop bulldozer dan pelacak ranjau ini dapat berjalan di lokasi –lokasi yg berbahaya. Mencari ranjau sesuai perintah operator serta menetralisir ranjau dan peledak yang tidak ter aktifasi.

Berdasarkan spesifik teknis Uran-6, robot ini mampu menetralkan barang yang rawan meledak yang berkekuatan setara dengan 60 kg TNT. Akan tetapi pada tahap percobaan ini hasil pekerjaan Ural-6 tak bisa dipercaya 100%, tetap harus ada pasukan Sapper yang perlu memeriksa keakuratan Uran-6 membersihkan lapangan setempat. Para pengembang robot ini berencana membuat Uran-6 dapat menetralkan hingga 98% tempat yang ia lewati.

Saat ini Uran-6 sedang berada dalam tahap uji coba di Subyek Federal Republik Chechnya di gurun raksasa yg berada di wilayah Vedensky. Medan di gunung tersebut sangatlah sulit dan jika Uran-6 tampil memukau disetiap tahap uji coba maka robot ini akan diproduksi secara massal.

4. Robot Pasukan Khusus Strelok
Strelok robot
Strelok robot
Strelok (penembak) pada dasarnya merupakan senapan mesin yang dipasang di atas chasis roda rantai. Namun kehadiran robot ini benar-benar membantu Pasukan Khusus. Dengan ukurannya yang kecil dan bobot yang ringan (500kg). Strelok dapat digunakan untuk menyerbu gedung di daerah kota yang padat dan menjaga keamanan para tentara. Mesin ini tidak menimbulkan bising sebab kecepatan bergeraknya sama dengan kecepatan langkah manusia yakni 4km/jam. Akan tetapi robot ini mampu menaiki anak tangga, maka dalam pertempuran di dalam kota atau operasi anti teroris Strelok tidak tergantikan. Strelok melakukan debutnya dalam pameran militer di Nizhniy, tagil pada September 2013, Namun saat ini tidak ada yang tahu bagaimana nasib senjata tersebut.

5. Robot Selam GNOM
GNOM robot
GNOM robot
Robot bawah air yang berbentuk seperti kamera video ini tidak membawa senjata apapun. Gerakan Gnom(kurcaci) dikendalikan oleh operator dengan bantuan joystick. Di bawah air robot ini dapat mencari dan menetralkan benda-benda yang berbahaya bagi manusia sepeti ranjau laut.

GNOM dilengkapi dengan pemindai melingkar serta mampu melihat hingga jarak 100m. Kemampuan tersebut tidak hanya berguna dalam pencarian dan penyelamatan saja tetapi juga saat melakukan pengintaian bawah air. Berat robot ini hanya 11 kg. Ukuran yang mini tersebut membuat Gnom bahkan dapat dibawa dalam bagasi kabin. Robot bawah air ini telah melalui tahap uji coba pada 2005 dan saat ini masih mengabdi di Pasukan Angkatan Laut Rusia.

Dan di bawah ini Robot Tempur Rusia yg masih dalam tahap Desain dan belum ada rencana untuk membuatnya karena masih dibutuhkan kajian yang lebih mendalam
Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Black Phoenix Project
Sumber : RBTH / Englisrusia.com

Perlombaan Senjata Angkatan Laut di Kawasan Asia Pasifik

Armada Kapal Perang Asia Pasifik
Armada Kapal Perang Asia Pasifik
Sadar atau tidak, telah terjadi perlombaan senjata pada angkatan-angkatan laut di kawasan Asia Pasifik. Analis memperkirakan bahwa dalam dua puluh tahun ke depan, Asia Pasifik akan menghabiskan dana sebesar USD 200 miliar untuk meningkatkan kemampuan tempur angkatan lautnya.

Lebih dari 400 kapal perang utama dan hampir seribu kapal patroli dan kapal pendukung akan dibangun di Asia Pasifik. Termasuk dalam kategori kapal perang utama yang akan dibangun adalah lebih dari seratus kapal selam, yang tampaknya akan menjadi kapal perang pilihan bagi angkatan-angkatan laut di Asia Pasifik terutama bagi negara yang khawatir akan pertumbuhan pesat kekuatan Angkatan Laut China.

Negara pemboros terbesar dalam perlombaan senjata di Asia Pasifik ini ini tidak lain adalah China, lalu Korea Selatan, Jepang dan Australia. Setiap negara di kawasan Asia pasifik dengan latar belakang ekonomi apapun kini berusaha mendapatkan kapal perang dan pesawat angkatan laut baru.

Asia Pasifik sedang berada dalam euforia dalam membeli kapal selam. Sebut saja Vietnam, negara yang memiliki sengketa wilayah dengan China ini membeli 6 kapal selam kelas Kilo dari Rusia, Malaysia membeli 2 kapal selam Kelas Scorpene dari Prancis, Singapura membeli 2 kapal selam Kelas Archer dari Swedia dan 2 kapal selam Type 218 SG dari Jerman (sebelumnya telah ada 4 kapal selam Kelas Challenger), Australia yang sudah mempersiapkan dana USD 20 miliar untuk kemungkinan pembelian 10 kapal selam Soryu dari Jepang, dan termasuk negara kita Indonesia yang membeli kapal selam Kelas Changbogo dari Korea Selatan. Ini hanya dari kapal selam dari sebagian negara ASEAN (plus Australia), belum lagi duo Korea, Taiwan dan Jepang atau negara lain di kawasan yang saat ini sedang mencari kapal selam baru, seperti Thailand.

Saat ini Angkatan Laut China belum memiliki superioritas yang besar di kawasan ini, namun arahnya sudah terlihat kesana. Angkatan Laut China baru-baru ini mengoperasikan kapal induk pertamanya dan memproduksi massal kapal perusak canggih yang mirip dengan kapal perusak Kelas Arleigh Burke Amerika Serikat dan kapal selam konvensional yang mirip dengan Kelas Kilo Rusia.

Untuk kapal selam nuklir, saat ini China masih mengalami masalah dengan pengembangannya, tetapi China terus mengembangkan kapal selam nuklir serang (SSN) kelas baru (lebih baik dari SSN sebelumnya) dan kapal selam nuklir rudal balistik (SSBN). Jika tidak diimbangi dengan peningkatan pesat persenjataan angkatan-angkatan laut di kawasan Asia Pasifik, Angkatan Laut China akan menjadi yang terkuat dan mendominasi Asia Pasifik dalam dua dekade ke depan.

Uji Coba Kapal Perusak Angkut Helikopter Jepang Izumo Class

Destroyer Izumo Class
Izumo Class

Izumo Class

Izumo Class

Izumo Class

Izumo Class

Izumo Class

Kapal perusak angkut helikopter Jepang Izumo Class, telah menyelesaikan ujicoba laut tahap lainnya. Izumo yang diluncurkan 9 Agustus 2013 Merupakan kapal perusak helikopter terbesar kedua yang pernah dibangun sejak Perang Dunia ke-2. Kapal itu bergabung dengan Maritime Self- Defense Forces Jepang.

Izumo dibangun di galangan kapal Jepang Marine United di Yokohama. Selain sebagai platform anti-kapal selam, kapal ini mampu mengisi peran penting dalam pertahanan wilayah Jepang.

Dulunya Izumo adalah kapal lapis baja yang ikut dalam Pertempuran Tsushima di Selat Tsushima yang disebut sebagai pertempuran laut terakhir dan paling menentukan sepanjang Perang Jepang-Rusia (1904–1905). Izumo yang terlibat dalam perang itu sebenarnya adalah kapal perang hasil rampasan dari Inggris.

Izumo juga seperti kapal induk yang dianggap senjata ofensif. Dengan panjang 428 meter, pesawat F-35 bisa landing di kapal ini. Izumo bisa dikatakan kapal perusak yang juga kapal Induk.

Dek penerbangan dan hangar mampu menampung 14 helikopter, termasuk dua CH – 47 Chinooks. Dek penerbangan yang besar memungkinkan operasi penerbangan simultan hingga lima helikopter.

Harga Kapal Selam 2014

astute submarine
Astute Submarine
Berikut ini adalah daftar harga Kapal selam, Mungkin bukan harga yang tepat tapi setidaknya mendekati harga yang sebenarnya.

Harga bisa berbeda dari berbagai sumber disesuaikan dengan tahun pembuatan, seri yang dibuat, jeroan, kelengkapan suku cadang dan pelatihan serta klausul TOT.
Astute SSN Submarine
Astute SSN (Inggris) – $2.4 milyar
Severodvinsk SSBN Submarine
Severodvinsk SSBN(Rusia) – $1.5 milyar
Virginia SSN Submarine
Virginia SSN(Amerika) – $2,4 miliar
Ohio SSBN Submarine
Ohio SSBN (Amerika) – $7 miliar
Barracuda SSN Submarine
Barracuda SSN (Prancis) – $1,35 miliar
Dolphin SSK Submarine
Dolphin SSK (Jerman / Israel) – $635 juta
Gotland SSK Submarine
Gotland SSK (Swedia) – $365 juta
Improved Kilo SSK Submarine
Improved Kilo SSK (Rusia) – $350 juta
Le Terrible SSBN Submarine
Le Terrible SSBN (Prancis) – $3,8 miliar
Scorpene SSK Submarine
Scorpene SSK (Prancis) – $825 juta
Tipe 209 SSK Submarine
Tipe 209 SSK (Jerman / Portugal) – $550 juta
Tipe 212 SSK Submarine
Tipe 212 SSK (Jerman) – $525 juta
Tipe 214 SSK Submarine
Tipe 214 SSK (Jerman) – $500 juta
Chang bogo SSK Submarine
Chang bogo SSK (Korea) – $466 juta + tot(standar $ 350 juta)
Soryu SSK Submarine
Soryu SSK (Jepang) – $1.6 milyar*
Sumber jkgr