Pindad Kenalkan Panser Canon 90mm

Label Berita , ,

Panser Canon Pindad (photo: detik.com)

Jakarta – PT Pindad akan meluncurkan 2 panser Anoa varian terbaru pada awal November 2014 di acara Indo Defence 2014 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Rencananya panser varian terbaru tersebut akan diberi nama oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Nanti rencananya yang kasih namanya Pak Jokowi,” kata Kepala Humas PT Pindad, Sena Maulana kepada detikFinance Jumat (24/10/2014).

Varian panser generasi terbaru yang diluncurkan adalah tipe canon 90mm dan amphibi. Untuk panser canon memakai persenjataan buatan Belgia sedangkan untuk paser amphibi menggandeng perusahaan asal Italia.

Harga per unit panser tipe canon rencananya dipatok Rp 25 miliar hingga Rp 30 miliar per unit, sedangkan varian amphibi dijual lebih murah.

Dari gambar yang diperoleh detikFinance, panser varian canon yang dirancang dan dibuat oleh Pindad di Bandung Jawa Barat secara desain mirip dengan panser Tarantula buatan Korea Selatan. (detik.com).

5 Pesawat Tempur Rusia yang Paling Mematikan

Label Berita ,

Two Seat Russian Trainer Jet gambar: wallpaperose.com

Selama Perang Dingin, Angkatan Udara Uni Soviet adalah angkatan udara terbesar di dunia. Armada tempur udara Soviet utamanya dibuat oleh beberapa perusahaan dirgantara, yaitu Mikoyan-Gurevich, Sukhoi dan Tupolev. Perusahaan-perusahaan ini tidak hanya memproduksi pesawat dalam jumlah yang besar, namun juga berteknologi tinggi.

Setelah Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, berbagai negara baru bermunculan dan mereka juga mewarisi berbagai pesawat tempur, serang, pembom dan transportasi, meskipun sebagian besar masih diwarisi oleh Rusia. Mendekati keruntuhan Uni Soviet, berbagai perusahaan-perusahaan dirgantara Rusia mengalami masa kritis akibat krisis ekonomi, hingga akhirnya mulai bangkit pada tahun 2000-an.

Setelah hampir seperempat abad sejak Uni Soviet runtuh, Rusia akhirnya kembali menancapkan cakarnya di udara. Mulai dari pengembangan varian-varian Sukhoi yang lebih canggih, powerfull dan mematikan, hingga upgrade pesawat-pesawat era Uni Soviet untuk memenuhi kebutuhan perang udara Rusia di masa kini dan masa mendatang.

Di bawah ini adalah 5 pesawat Rusia yang paling mematikan yang kami kutip dari laman National Interest.

PAK FA
PAK FA saat MAKS Air Show 2013. Gambar: Vitaly V. Kuzmin/Wiki Common
PAK FA merupakan proyek penerbangan Rusia yang paling ambisius pasca berakhirnya Perang Dingin. PAK FA yang merupakan akronim dari Perspektivnyi Aviacionnyi Kompleks Frontovoi Aviacii adalah pesawat tempur generasi kelima Rusia yang dikembangkan Biro Desain Sukhoi, yang selama ini sukses dengan Su-27 Flanker-nya. PAK FA mulai dikembangkan pada bulan April 2002 setelah Sukhoi memenangkan tender desain untuk menciptakan pesawat tempur masa depan Rusia.

Permukaannya yang datar membuat pesawat siluman ini sekilas masih mirip dengan Su-27 Flanker. PAK FA diberikan kemampuan supercruise, yaitu kemampuan untuk terbang dengan kecepatan di atas Mach 1 tanpa menggunakan afterburner, dengan kata lain kecepatan tersebut dapat dicapainya hanya dengan menggunakan mesin. Pesawat ini juga dilengkapi dengan radar active electronically scanned array (AESA) dan sensor elektro-optik untuk melacak dan menyerang target. Teluk senjata internalnya (internal weapon bay) mampu membawa hingga 6 rudal jarak jauh, rudal udara ke darat, atau rudal campuran. Disimpannya rudal di teluk senjata internal (di dalam badan) berguna agar tidak merusak fitur silumannya.

PAK FA pertama kali terbang pada tanggal 29 Januari 2010, terbang selama 47 menit dari pabrik pesawat Yuri Gagarin di timur jauh Rusia. Saat ini sudah 5 prototipe PAK FA yang terbang, dengan 450 penerbangan uji coba hingga akhir 2013. PAK FA akan mulai diproduksi untuk Angkatan Udara Rusia pada tahun 2016. Dilaporkan, hingga tahun 2024, Rusia akan memperkuat armada tempur udaranya dengan 400-450 PAK FA.

Su-25 Frogfoot
Su-25. Gambar via forum.nationstates.net
Pada awal tahun 1968, Departemen Pertahanan Uni Soviet menginginkan pesawat khusus untuk menghancurkan kendaraan lapis baja dalam upaya memberi dukungan tempur bagi pasukan darat Uni Soviet, setelah dipensiunkannya pesawat serangan darat Ilyushin Il-2. Pesawat-pesawat tempur pembom Soviet yang ada saat itu (Su-7, Su-17, MiG-21 and MiG-23) juga tidak cocok melakukan dukungan udara jarak dekat bagi pasukan darat, karena tidak dilengkapi lapisan armor untuk melindungi pilot dan kecepatan penerbangannya yang tinggi menyulitkan kontak visual pilot dengan target. Akhirnya Su-25 mulai dikembangkan pada tahun 1972 dan terbang pertama kali pada 22 Februari 1975.

Seperti halnya pesawat A-10 Amerika Serikat, Su-25 dirancang untuk serangan darat jarak dekat. Su-25 digambarkan sebagai truk sarat mutan dengan sepuluh cantelan untuk membawa bom, peluncur roket, rudal udara ke permukaan dan rudal udara ke udara. Su-25 juga dilengkapi dengan kanon GSh-30-2 30 mm untuk mengatasi target kecil di darat.

Su-25 telah diterjunkan dalam berbagai konflik di dunia, mulai dari pendudukan Soviet di Afghanistan pada 1979-1989, perang di Chechnya, Perang Teluk Persia, dan sekarang konflik di Ukraina. Versi baru standar Su-25 SM, dilakukan upgrade pada airframe, head up display, sistem navigasi satelit GLONASS dan radar penerima peringatan. Sekitar 195 unit Su-25 dari berbagai varian yang kini dioperasikan Rusia.

Tu-95 "Bear"
Tu-95 "Bear". Gambar via forums.airforce.ru
Salah satu pesawat tertua namun termasuk yang paling efektif dalam gudang persenjataan udara Rusia adalah Tupolev Tu-95 "Bear". Tu-95 adalah pesawat pembom yang desainnya sudah berusia 60 tahun lebih. Angkatan Udara Rusia mempercayakan misi serangan jarak jauh kepada Tu-95, termasuk penerbangannya ke 50 mil dari garis pantai California, Amerika Serikat.

Karena semakin canggihnya sistem pertahanan udara Amerika Serikat, membuat sulit bagi Tu-95 menembus wilayah Amerika Serikat. Akhirnya Tu-95 berevolusi menjadi pesawat pembawa rudal jelajah nuklir, membawa satu rudal jelajah nuklir Raduga Kh-20.

Tu-95 juga berevolusi menjadi pesawat patroli dan pesawat intai maritim. Kecepatannya yang tinggi dan jangkauannya yang jauh membuatnya mampu mengawasi konvoi armada Atlantik Utara dan kemudian menyerang mereka dengan rudal jelajah atau dengan menyerahkannya ke kekuatan udara lain atau kekuatan laut.

Setelah absen sekian lama sejak Perang Dingin berakhir, pembom-pembom ini mulai kembali melakukan patroli penerbangan jarak jauh. Pada tanggal 4 September, dua pembom Tu-95 terbang dari Rusia barat menuju pesisir timur Amerika Serikat. Bertepatan selama KTT NATO di Wales di mana aliansi membahas situasi di Ukraina. Saat ini sekitar 58 unit Tu-95 yang masih dioperasikan Angkatan Udara Rusia.

Tu-160
Tu-160 "Blackjack". Gambar: Aleksander Markin/Wiki Common
Pesawat pembom kelas berat yang terakhir diproduksi oleh Uni Soviet adalah Tu-160 Blackjack. Diproduksi antara tahun 1980-1992, Blackjack merupakan pembom tercanggih Rusia saat ini, mampu beroperasi di segala cuaca baik siang maupun malam hari sambil membawa banyak rudal jelajah nuklir.

Di awal 1970-an, Uni Soviet menginginkan pesawat pembom berkecepatan tinggi yang mampu melakukan penetrasi ke wilayah udara musuh baik di ketinggian tinggi maupun rendah, mampu lepas landas dan mendarat di jarak yang pendek, sehingga bisa dioperasikan di lapangan udara kecil. Akhirnya setelah masa pengembangan yang lama, Tu-160 yang pertama terbang pada 18 Desember 1981.

Dijuluki "White Swan" di Rusia, dengan sayap yang bisa menyapu (dilipat ke belakang), bentuk ramping, dan mesin turbofan yang dipasang di bawah badan pesawat. Tu-160 merupakan pembom unik dan mematikan.

Tu-160 memiliki kecepatan maksimum 2.000 kilometer per jam dan jangkauan 14.000 kilometer tanpa perlu mengisi bahan bakar selama perjalanannya. Untuk menambah jangkauannya, Tu-160 dapat diisi bahan bakar (dengan air refueling) oleh pesawat tanker Il-78.

Tu-160 mampu membawa 22 ton persenjataan pada dua teluk senjata eksternalnya, termasuk rudal jelajah nuklir Raduga Kh-55. Kh-55 merupakan rudal low-observable, bertenaga turbofan dengan jangkauan lebih dari 2.500 kilometer. Tu-160 mampu membawa hingga 12 Kh-55.

Untuk tujuan defensif, sistem pertahanan diri Baikal akan mendeteksi dan mengacaukan sistem pertahanan udara musuh. Sistem deteksi termalnya dapat mendeteksi rudal atau pesawat musuh  yang masuk, kemudian menyerangnya dengan rudal atau mempertahankan diri dengan melepaskan flare.

Tiga puluh lima Tu-160 telah dibangun oleh Uni Soviet dan Rusia. Hanya 16 unit yang kini digunakan oleh Rusia. Meskipun bukan termasuk bomber berbadan besar, namun jika 16 unit ini disatukan makan dapat meluncurkan 192 rudal jelajah nuklir Kh-55, yang setiap rudal kekuatannya setara 200 kiloton TNT. Sebagai pembanding, bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, hanya berkekuatan sekitar 16 kiloton.

Su-35 Flanker
Sukhoi Su-35 saat MAKS Air Show 2011. Gambar: Dmitry Avdeev/Wiki Common
Teknologi Sukhoi Su-35 berada di antara Su-27 tua dan PAK FA, dan menjadi solusi sementara Rusia untuk mengisi kesenjangan kekuatan udara hingga akhirnya PAK FA diproduksi dalam jumlah mencukupi. Pada beberapa hal, Su-35 merupakan perpaduan dari kedua generasi pesawat tersebut, menyerupai Su-27 namun beberapa sistemnya juga digunakan oleh PAK FA.

Sistem senjata, propulsi (mesin) dan avionik telah ditingkatkan. Radar AESA Erbis-E mampu mendeteksi pesawat lain hingga jarak 400 km. Untuk pertahanan diri, Su-35 dilengkapi dengan sistem peperangan elektronik Khibiny-M, serta KNIRTI SAP 14 dan 518 jammers, yang secara bersama-sama dapat mengacaukan radar NATO. Jammers-nya juga bisa mengirimkan sinyal palsu untuk mengecoh radar musuh.

Dua mesin Su-35, varian dari NPO Saturn AL-41 yang juga mirip dengan versi yang digunakan PAK FA, serta thrust vectoring nozzle memberikannya kemampuan dan kualitas manuver yang luar biasa dalam pertempuran udara. Badan pesawat ini terbuat dari titanium, untuk mengurangi bobotnya namun meningkatkan kekuatannya. Sebagain besar bidang utama badan Su-35 menggunakan bahan penyerap radar, artinya pesawat ini semi siluman (diperkuat lagi dengan jammers).

Soal senjata, Su-35 mampu membawa berbagai jenis senjata dalam jumlah yang besar. Pesawat ini memiliki 19 cantelan untuk membawa senjata, jammers, tanki bahan bakar eksternal dan sensor tambahan. Su-35 selama ini hanya terlihat membawa dua jenis rudal yaitu K-77ME, versi ramjetnya dari rudal udara ke udara JK-77, dan KH-59, rudal untuk serangan darat. Hingga tahun depan, Rusia akan memiliki 48 unit Su-35.

artileri.org

5 Hal yang Mungkin Tidak Anda Ketahui dari F-35

Label Berita , ,

Anda pasti sudah tahu bahwa F-35 Lightning II adalah pesawat tempur siluman multiperan generasi kelima yang dibuat oleh Lockheed Martin di fasilitasnya di Fort Worth, Texas, Amerika Serikat. Tapi yang mungkin Anda tidak tahu adalah bahwa saat ini lebih dari 100 pesawat telah diserahkan dan sedang diterbangkan oleh pilot AS dan pilot internasional di enam lokasi di Amerika Serikat.

Berikut adalah lima hal lainnya tentang F-35 Lightning II yang mungkin Anda tidak ketahui:

1. F-35B adalah pesawat STOVL supersonik pertama
Ini baru pertama kali dalam sejarah penerbangan, F-35B merupakan pesawat tempur short-take off and vertical-landing (STOVL) atau lepas landas pendek dan mendarat vertikal yang mampu terbang melampaui kecepatan suara. F-35B merupakan salah satu varian dari F-35 yang digunakan oleh Korps Marinir AS. Pada tanggal 10 Juni 2010, Letkol Matt Kelly, pilot percontohan Korps Marinir AS  menerbangkan F-35B STOVL dengan kecepatan Mach 1,07 atau 1.311 kilometer per jam. Uji coba dilakukan di ketinggian 30.000 kaki di sekitar Naval Air Station Patuxent River, Maryland.

2. F-35 adalah satu-satunya pesawat yang pilotnya dapat melihat sekeliling melalui helm
Helmet Mounted Display Systems (HMDS) yang khusus dibuat untuk F-35 akan memproyeksikan informasi pada visor helm, berbeda dengan Heads-up Display (HUD) biasa. HMDS memberikan semua informasi yang dibutuhkan pilot F-35 untuk melakukan misinya dan kembali ke pangkalan dengan selamat tanpa harus kehilangan kewaspadaan.

Distributed Aperture System (DAS) pada F-35 merupakan rangkaian dari enam kamera inframerah yang dipasang di sekitar pesawat yang akan mengirimkan citra real-time ke helm, yang membuat pilot mampu melihat 'menembus' badan pesawat. Pilot dapat melihat lingkungan sekitar mereka dengan jelas baik siang atau malam hari. DAS juga sepenuhnya terintegrasi dengan sensor lain dalam pesawat, jadi jika radar F-35 ini mendeteksi sesuatu yang menarik, perangkat lunak DAS akan menganalisanya dengan cermat dan memberikan 'warning' kepada pilot jika itu adalah ancaman.

3. F-35 adalah pesawat tempur siluman pertama yang dijual di luar Amerika Serikat
F-35 dikembangkan melalui program "Joint Strike Fighter" di awal 1990-an. Tujuan dari proyek ini adalah untuk menciptakan pesawat tempur generasi kelima yang dapat diekspor ke luar negeri. Akhirnya proyek ini berhasil melahirkan pesawat tempur siluman, yang dikenal sebagai F-35, dengan tiga varian dan sembilan negara mitra pembuatnya: Australia, Kanada, Denmark, Italia, Belanda, Norwegia, Turki, Inggris dan Amerika Serikat.

Israel, Jepang, dan Korea Selatan juga telah bergabung ke dalam program ini melalui Foreign Military Sales (FMS) atau penjualan militer asing. Dengan semakin banyaknya sekutu yang menerbangkan F-35, koalisi akan semakin kuat karena setiap pesawat dapat berbagi informasi pertempuran secara real-time.

4. Kokpit F-35 dari seluruh varian dan yang dijual ke asing sama persis
Tidak seperti pesawat-pesawat AS sebelumnya, kokpit F-35 dilengkapi dengan kaca layar sentuh besar agar pilot mudah berinteraksi dengan sentuhan, cursor hooking dan pengenalan suara. Dengan teknologi baru ini, pilot dapat mengubah ukuran, lokasi, dan isi dari apa yang tampil pada layar, termasuk jendela besar dengan Tactical Situation Display (TSD). Pilot dapat memanipulasi panel kontrol dan berinteraksi dengan layar terpisah hanya dengan perintah sederhana. Dengan penggunaan sensor fusion, pilot juga dapat melihat gambar operasional yang terintegrasi di TSD. Sensor fusion memberikan gambaran situasi pertempuran yang mudah dipahami oleh pilot.

5. Hampir 300.000 bagian dengan sekitar 11.000 nomor bagian unik yang digunakan untuk membuat F-35
Seluruh komponen yang diperlukan untuk membangun F-35 berada di pabrik Lockheed Martin di Fort Worth, Texas. Proses produksi F-35 berdasarkan prinsip-prinsip manufaktur yang telah teruji, peralatan generasi terbaru dan tenaga kerja yang terampil. Strategi produksi F-35 berdasarkan moving component assemblies, seperti sayap dan bagian depan pesawat, dari satu pesawat ke pesawat lainnya. Ritme produksi semacam ini akan meningkatan efisiensi, menurunkan biaya dan menghemat waktu, dan posisi pekerja untuk mencapai standar kerja pada setiap pekerjaan. Lihat video dibawah.


Credit: Lockheed Martin